News  

Kecamatan Manonjaya Berdayakan KPM PKH Melalui Usaha Ternak Ayam Petelur

Avatar photo

inShot.id | Upaya pemberdayaan masyarakat terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Salah satunya melalui kegiatan beternak ayam petelur yang kini mulai dikembangkan di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya.

Salah satu kelompok yang aktif mengembangkan usaha ini berada di Dusun Pasir Panjang, Desa Kalimanggis. Kelompok tersebut beranggotakan 39 orang penerima manfaat PKH yang membentuk usaha bersama beternak ayam petelur sebagai sumber penghasilan baru.

Setiap hari, kelompok memberikan sekitar dua kilogram pakan untuk ayam-ayamnya. Dalam sebulan, kebutuhan pakan mencapai sekitar 60 kilogram. Hasil telur kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga pasaran sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Program pemberdayaan KPM PKH ini diharapkan mampu membantu keluarga penerima manfaat menjadi lebih mandiri secara ekonomi sekaligus menumbuhkan semangat wirausaha di pedesaan. Pemerintah daerah pun berencana memperluas program serupa ke desa-desa lain yang memiliki potensi pengembangan usaha peternakan.

Camat Manonjaya, Kadir, S.Sos., M.M., mengapresiasi semangat kelompok PKH dalam menjalankan usaha ayam petelur. Ia menyebutkan, dari 12 desa di wilayah Kecamatan Manonjaya, sebagian besar sudah mulai mengembangkan usaha serupa.

“Alhamdulillah, saat ini sudah banyak desa yang mengembangkan usaha ayam petelur. Hasilnya bisa dinikmati langsung oleh KPM. Dengan ketahanan pangan ini, masyarakat penerima PKH diharapkan bisa graduasi mandiri,” ujar Kadir.

Sementara itu, Heri Hasan Lestari, Koordinator PKH Kecamatan Manonjaya yang didampingi Pendamping Sosial, Didin Wahyudin S.Kom., mengatakan bahwa melalui program ini pihaknya berupaya mengubah mindset masyarakat agar tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi.

“Kita dorong para penerima PKH untuk berdaya dan menghasilkan. Dengan beternak ayam petelur, mereka bisa mendapatkan tambahan penghasilan setiap hari dari hasil telur yang dijual. Diharapkan ke depan mereka bisa benar-benar mandiri dan graduasi dari PKH,” ungkap Heri.

Dari hasil beternak, kelompok ini mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp900 ribu per bulan, setelah dikurangi biaya pakan sekitar Rp450 ribu. Sebagian keuntungan juga disisihkan untuk pembangunan kandang baru agar kapasitas ternak dapat terus bertambah.

Program pemberdayaan ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana bantuan sosial pemerintah tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif dalam menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *